1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer>
Image 1
SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI DINAS PERTANIAN KABUPATEN PONOROGO

PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI BERAS NASIONAL ( P2BN )

PDF Print E-mail

 

Komoditas padi merupakan  komoditas pangan utama dan merupakan salah satu komoditas unggulan termasuk dalam 4 sukses program kementerian pertanian dalam mendukung swasembada pangan .Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional, kementerian pertanian meluncurkan program peningkatan produksi beras nasional (p2bn) yang difokuskan di 11 propinsi sentra produksi padi dan melipuri 193 kabupaten/kota.

Pada saat ini total luas areal padi di indonesia mencapai 12.879.039 ha,  produksi mencapai 64.329.329  ton dengan produktifitas hanya mencapai 4,9 ton per ha, jauh dari standar yang diharapkan yakni dapat menghasilkan lebih dari 10 ton  per hektar.  Rendahnya produktifitas padi ini disebabkan beberapa hal yakni selain  adanya serangan organisme pengganggu tanaman (opt) juga akibat teknologi budidaya yang belum sesuai anjuran  selain rendahnya produktifitas, masalah lain yang sangat penting adalah tingkat kehilangan hasil akibat penanganan panen dan pasca panen dapat mencapai 20 %, hal ini mengakibatkan kerugian yang cukup  besar bagi pendapatan petani.

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi lebih dari 95 persen penduduk indonesia. Usahatani padi menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagai sumber pendapatan bagi sekitar 21 juta rumah tangga pertanian. Selain itu, beras juga merupakan komoditas politik yang sangat strategis, sehingga produksi beras dalam negeri menjadi tolok ukur ketersediaan pangan bagi indonesia.

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun  mutunya, aman, merata dan terjangkau;  (uu no. 7 tahun 1996 tentang pangan ; pp no. 68 tahun 2002 tentang ketahanan pangan. Kecukupan pangan (terutama beras) dengan harga yang terjangkau telah menjadi tujuan utama kebijakan pembangunan pertanian. Kekurangan pangan bisa menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial, dan politik yang dapat menggoyahkan stabilitas nasional.

Kegiatan P2BN dilaksanakan karena melihat adanya permintaan beras terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, perubahan iklim menjadi lebih ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada  terganggunya produksi pangan, pasar beras dunia menjadi terbatas sehingga kita harus swasembada beras berkelanjutan dan memiliki dengan cadangan beras yang memadai dan beras masih sebagai kontributor utama terhadap inflasi sehingga harga beras harus terkendali.

Pemerintah melalui Presiden RI pada sidang kabinet paripurna 6 januari 2011 menyatakan bahwa “produksi beras dalam negeri harus ditingkatkan sehingga diperoleh cadangan yang cukup “kemidian pada rapimnas dgn gub.bupati/walikota, dprd provinsi dan   kab/kota  dan pelaku usaha di jcc 10 januari 2011 menegaskan kembali bahwa “meskipun dalam sistem perdagangan kita bisa membeli atau menjual, tetapi untuk pangan kita harus menuju kemandirian pangan”.  Selanjtnya pada sidang kabinet tanggal 6 september 2011 dan rakortas   7 september 2011 beliau mengatakan“ surplus beras 10 juta ton harus dicapai pada tahun 2014” Dengan demikian maka target surplus 10 juta ton beras pertahun pada tahun 2015 tersebut memerlukan peningkatan produksi padi minimal 7% per tahun terhitung mulai tahun 2011

Banyak yang harus dibenahi dalam mensuksekan kegiatan P2BN  kelemahan dan kendala masih menghadang di depan antara lain yaitu permasalahan

1.       Meningkatnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global (global climate change);

2.       Peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya;

3.       Luas baku lahan pertanian tidak cukup sementara masih banyak lahan terlantar

4.       Infrastruktur irigasi banyak yang rusak sementara anggaran pemerintah kurang tersedia untuk ini

5.       Sistem perbenihan yang belum berjalan optimal;

6.       Keterbatasan akses petani  terhadap permodalan dan tingginya suku bunga usaha tani;

7.       Kualitas produk tanaman pangan yang dihasilkan petani belum sepenuhnya memenuhi standar pabrik pakan;

8.       Masih rendahnya harga yang diterima petani, terutama pada masa panen raya, sehingga tidak mendorong petani untuk berproduksi;

9.       Persaingan pemanfaatan lahan dengan tanaman semusim lainnya;

10.    Persaingan produk pertanian petani dengan produk impor;

11.    Penyusutan lahan sawah akibat alih fungsi lahan.

12.    Pengawalan dan pendampingan dan koordinasi di tingkat lapangan belum optimal.

Sedangkan permasalahan di tingkat petani secara umum adalah :

1.       Jumlahnya sangat besar, 25 juta kk tani, 20 juta berlahan, 5 juta buruh tani

2.       Pendidikan formal  rendah (80% pendidikan sd)

3.       Rendahnya regenerasi petani (80% usia diatas 50 tahun)

4.       Miskin (70% penduduk miskin petani di pedesaan)

5.       Usahatani kurang efisien

6.       Teknologi terbatas

7.       Luas pemilikan lahan petani sempit,

8.       Keterbatasan penguasaan teknik budidaya pada komoditas tertentu saja

9.       Kurangnya orientasi agribisnis

10.    Kurangnya penguasaan proses pengolahan pasca panen

11.    Kurangnya kemampuan mengakses pasar

Untuk meningkatkan sinergitas dan koordinasi dalam rangka pelaksanaan peningkatan program P2BN, perlu dibentuk dan ditingkatkan mobiltas dan kinerja tim pengendali di tingkat pusat, tim pembina di tingkat propinsi dan tim pelaksana di tingkat kabupaten/kota dan kecamatan. Hal ini untuk lebih menggalakan upaya dalam penerapan  teknologi intnsifikasi antara lain :

1.       Penggunaan varietas unggul produktivitas tinggi dan adaptif terhadap perubahan iklim.

2.       Peningkatan produktivitas padi melalui sekolah lapangan pengelolaan tanaman terpadu (sl-ptt).

3.       Melaksanakan sekolah lapangan pengendalian hama terpadu (sl-pht) dan sekolah lapangan iklim (sli)

4.       Antisipasi kekeringan melalui mobilisasi pompa air.

5.       Melaksanakan pengembangan  system of rice  intensification (sri) .

6.       Melaksanakan cooperative farming

7.       Pengamanan pertanaman dari organisme pengganggu tumbuhan (opt) melalui operasi pengendalian, distribusi cadangan pestisida, dan replanting pertanaman yang mengalami puso,

8.       Penggantian biaya produksi bagi petani yang mengalami puso.

9.       Meningkatkan penerapan teknologi pasca panen dan revitalisasi penggilingan padi kecil untuk  menurunkan susut hasil gabah

10.    Peningkatan mutu gabah melalui pengadaan dryer, revitalisasi penggilingan padi skala kecil dan menengah

11.    Mengurangi loses melalui penggunaan terpal, pengadaan power tresher

12.    Menyalurkan bantuan benih, pupuk dan sarana pengendali opt.

Strategi mendukung peningkatan produksi beras

1.       Peningkatan kapasitas kelembagaan penyuluhan kecamatan

2.       Optimalisasi jumlah dan peningkatan kompetensi penyuluh

3.       Peningkatan koordinasi dalam penyelenggaraan  penyuluhan  pertanian

4.       Peningkatan  akses penyuluh/petani terhadap informasi teknologi

5.       Optimalisasi dukungan sarana-prasarana dan pembiayaan penyuluhan pertanian

Demikianlah kegiatan yang hendaknya dapat direalisasikan di semua lini dan tingkatan, keterpaduan dan koordinasi sangat dibutuhkan untuk mencapai target produksi padi dan kontribusi beras jatim dalam rangka program P2BN tahun 2012 yang mematok tolok ukur  pencapaian luas tanam  2.142.963  Ha, Luas panen  1.918.524  Ha, Produktivitas 67,95 Kw/Ha,  produksi   13.036.484  ton gkg, produksi   beras 8.473.715  ton Dengan asumsi jumlah konsumsi beras  3.420.060  ton maka diharapkan dapat mencapai surplus  5.053.655 ton beras.

Faktor kunci  untuk keberhasilan P2BN  adalah dengan melaksanakan :

1.       Effisiensi dan optimalisasi pemanfaatan potensi sumberdaya pertanian

2.       Penerapan teknologi maju  dan spesifik lokasi

3.       Dukungan sarana produksi dan permodalan

4.       Jaminan harga  yang memberikan insentif produksi

5.       Dukungan penyuluhan pertanian  dan pendampingan.

6.       Peran aktif kepemimpinan formal dan non formal di provinsi dan kabupaten/kota